Copyright © 2002 - 2013 PT. BOLEH NET INDONESIA.
I Slank U
Apa yang kalian bayangkan bila mendengar tentang grup band legendaries Slank?. Mungkin yang pertama terlintas di pikiran Anda adalah sebuah grup band dengan basis penggemar masif dan cenderung berasosiasi sebagai penampil yang memiliki aksi panggung urakan, slenge'an dan identik dengan penonton fanatik yang sering kali tidak terkontrol.
Slank dalam rentang karir bermusik selama 28 tahun telah memposisikan diri sebagai grup band yang menyuarakan teriakan rakyat kelas sosial menengah ke bawah. Grup band ini konsisten dengan pilihan bermusiknya selama hampir tiga dekade, sehingga mereka sangat akrab dengan luapan emosi masyarakat pinggiran.
Tengok saja liriknya yang apa adanya, yang meski sering tidak mengindahkan unsur kalimat berbunga, puitis dan hiperbola, justru mampu menampilkan keindahan lirik yang dalam. Lirik mereka polos dan terkadang vulgar. Suatu kekuatan yang akhirnya membuat Slank disukai banyak kalangan.
Slank adalah segelintir musisi Indonesia yang seolah tidak lekang oleh dinamisnya zaman, pergeseran kultur, teknologi dan perubahan sistem industri musik. Di saat demam Korea, musik dengan synthesizer, auto tune , hingga ke hip-hop dan nuansa Melayu, musik Slank tetaplah musik Slank yang sedari dulu bertahan dengan segala kepolosan dan kejujuran. Jenis musisi yang memang tidak lekang oleh perubahan zaman.
Ada suatu pemikiran menarik tatkala musik yang diusung Slank mencoba "naik kelas". Dari panggung terbuka dan penonton masal, mereka mencoba dibawa ke sebuah hotel ekslusif berbintang lima. Jika mengutip perkataan salah seorang personelnya, Bim Bim, mereka mencoba beralih dari Slankers "bendera" ke Slankers Wangi.
Slankers Wangi adalah istilah yang dilontarkan Bim Bim dan rekan-rekannya di Slank untuk penikmat musik mereka dari kalangan menengah ke atas. Yang tidak akrab dengan terik mentari suasana konser terbuka dan terbiasa dengan ruang berpendingin ruangan, berpakaian rapi serta memakai parfum.
Perpindahan paradigma konser Slank tidak hanya dari segi ruang tampil, dari yang identik dengan lapangan dan jumlah penonton masal menjadi di sebuah ruang ekslusif dengan tata panggung apik. Kaka, Bim Bim, Abdee, Ridho dan Ivanka harus berkompromi dengan aransemen baru dan orkestrasi.
Jiwa rock n roll Slank yang sering berimprovisasi harus beradaptasi dengan konsep orkestra yang memiliki aransemen saklek dan pasti. Kenapa pasti? Karena orkestra didasarkan pada partitur sebagai acuan pasti dalam bermusik.
Hasilnya? Bukan sebagai konser Slank terbaik, namun harus diakui segar.
Konser dalam rangka 28 tahun karir bermusik Slank yang diadakan pada Jumat, 11 Mei 2012, bertempat di ballroom hotel bintang lima Ritz Carlton Pacific Place. Bertajuk The Journey of Blue Island- I Slank You, konser Slank sempat molor selama kurang lebih satu jam dari jadwal semula pukul 20.00.
Bahkan saat jarum jam menunjukkan pukul 19.20, masih terdengar suara para personel Slank melakukan latihan akhir. Akan tetapi dengan penampilan musisi sekelas Slank dan barisan musisi pendukung, fakta tersebut tidak menjadi penghalang. Meski kemudian kendala terasa dari segi teknis.
Konser SLANK semalam dibuka dengan kehadiran Kaka, Bim Bim, Abdee, Ridho dan Ivanka yang memasuki ruang konser dan duduk di barisan paling depan kelas VIP. Mereka berpenampilan layaknya para pejabat negara ini. Mereka memang "pejabat" penting di dunia musik Indonesia. Ribuan penonton yang memadati ballroom Ritz Carlton Pacific Place sontak bersorak menyambut kedatangan para legenda musik tersebut.
Konser kemudian dibuka dengan penampilan vokalis frup band Naif, David, dengan iringan band Alexa. Seperti biasa David tampil memukau. Ia memiliki aura dan aksi panggung yang kuat. Celetukan spontan dan gaya panggung asyik yang diperlihatkan David saat membawakan lagu-lagu lawas SLANK, membuat penonton sontak bertepuk tangan dan larut dalam histeria.
David kemudian menghentak lewat lagu Memang, sebuah nomor dari album Suit..Suit..He..He (Gadis Sexy) di tahun 1990 ini lantas diikuti oleh koor dari khalayak.
"SLANK adalah band nomor satu di Indonesia dan saya adalah band nomor dua, " ujar David yang lantas disambut tawa para penonton.
David kemudian melanjutkan nomor I Miss You but I Hate You dalam irama ballad dan swing yang asyik.
Lampu panggung meredup. Beberapa menit kemudian salah satu vokalis wanita Indonesia terbaik, Dira Sugandhi, tampil dalam busana glamor dan tatanan rambut mengembang bak Diana Ross. Ia membawakan lagu Foto Dalam Dompet.
Range suara Dira yang lebar tampak tidak maksimal membawakan lagu ini. Dira terkenal akan suaranya yang mampu menjangkau nada-nada tinggi dan saat membawakan Foto Dalam Dompet, ia tidak menunjukkan kemampuan akrobatik vokalnya itu.
Tapi tetap saja Dira memukau, meski bermain di kunci lagu rendah, aura bintangnya memancar tak terbendung. Kaka yang notabene sebagai salah satu vokalis terbaik Indonesia, terlihat terpukau dengan kemampuan vokal Dira.
Setelah itu muncul Sashi yang membawakan nomor Satu secara akustik. Sashi pun amat memukau. Lagu yang dibawakannya seakan bisa membawa para penonton ke dalam Satu emosi dan menyanyikan salah satu lagu romantis itu secara khidmat.
Seusai Sashi, Alexa kemudian menggebrak panggun dengan nomor Jakarta Pagi Ini.
" Usia SLANK lebih tua dari usia Mono (salah satu personel Alexa-red),"ujar Aqi, vokalis Alexa.
Aksi panggung Alexa kemudian dilanjutkan dengan nomor Terlalu Manis dan Mawar Merah. Aqi, Fajar, Mono dan Satrio berhasil menawarkan interpretasi keren dari nomor-nomor lawas SLANK. Mereka berhasil memenangkan hati penonton.
Seusai Alexa, vokalis jazz Tika, membawakan lagu Melati. Ia pun tampil memukau lewat oleh vokal soulful-nya. Indikator kesuksesan Tika ditandai dengan gumaman para penonton yang bertanya-tanya siapakah Tika. Indikasi bahwa ia berhasil mencuri perhatian penonton.
Panggung kemudian gelap dan beberapa menit kemudian suara choir yang melantunkan penggalan lirik lagu Pulau Biru dan Bang Bang Tut. Suara choir seolah memanggil penampil berikutnya untuk muncul. Dan muncullah grup band indie asal Bandung, Pure Saturday.
Pure Saturday mencoba memainkan nomor Koepoe Koepoe Liarkoe dan Kalah dari persepektif aransemen berbeda. Interpretasi mereka memang berbeda dan asyik, namun Pure Saturday harus diakui menurunkan tensi konser yang sudah terbangun dari awal.
Dan saatnya para "pejabat" SLANK muncul di panggung. Mereka turun dari deretan kursi VIP ke panggung di depan. Mereka bak raja yang dielu-elukan rakyatnya setelah sedikit basa-basi, SLANK tanpa basa-basi menggebrak dengan nomor-nomor seperti Bang Bang Tut, Lo Harus Gerak (dari album Pulau Biru), Garuda Pancasila dan Nggak Mungkin.
"Mari kita adakan pilkada kecil di ruang Ritz Carlton. Kita anggap yang hadir di sini sebagai rakyat kecil. Apakah Ivan dan Abdee mungkin jkadi cagub dan cawagub? ", Tanya Kaka saat membawakan lagu Nggak Mungkin.
Tentu saja ribuan penonton langsung menjawab, "nggak mungkin!". SLANK menunjukan panggung adalah singgasana mereka dan penonton adalah rakyat. SLANK bermain-main dengan segala celetukan kocak tentang politik dan menawarkan beberapa daftar calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta. Tentu saja jawaban penonton adalah Nggak Mungkin.
"Lagu ini terakhir dibawain 15 tahun lalu. Dari tahun '98 baru dibawain lagi sekarang," ujar Bim Bim sebelum intro lagu Lorong Hitam.
Lagu mengalun dan penonton pun menjadi koor.
Ada pertanyaan besar tentang tirai putih yang menutupi panggung bagian belakang konser SLANK semalam. Penonton tahu bahwa aka nada orkestra yang mengiringi konser SLANK semalam. Tapi tetap saja momen terbukanya tirai dan tampilnya "laskar orkestra" menjadi momentum yang paling ditunggu.
"Kok nggak ada yang main piano? " Tanya Kaka sebelum akhirnya piano memainkan intro lagu Anyer 10 Maret dan tirai terbuka menampilkan orkestra.
SLANK membawakan nomo-nomor hit mereka seperti Ketinggalan Zaman (Kampungan), Terbunuh Sepi, Gara-Gara Kamu, Pandangan Pertama, Orkes Sakit Hati, Pacarku Kamu Harus Pulang dan beberapa nomor lagi dengan iringan orkestra.
Beberapa penampil lainnya pun kembali hadir seperti Tika, Dira Sugandhi dan musisi senior, Titiek Puspa.
Beberapa kendala teknis yang fatal terjadi di konser ini. Microphone mati saat SLANK berkolaborasi dengan aktris Poppy Sovia dan penyanyi Yuyun, saat melantunkan lagu Pandangan Pertama dan nomor baru, Kupu Biru.
Kesalahan yang seharusnya tidak boleh terjadi di konser istimewa dan dalam konsep megah seperti semalam. Beberapa kali feedback pun terjadi, hingga mengurangi keasyikan menonton.
Tapi harus diakui meski diiringi orkestra, nuansa gesekan strings section tidaklah terasa. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya sequencer yang berfungsi memaksimalkan efek orkestrasi.
Hal ini kemudian bisa dimaklumi karena orkestra membutuhkan "kepastian" dalam bermusik. Sesuatu yang kontras dengan sifat natural SLANK yang sering berimprovisasi terhadap segala kemungkinan yang terjadi di atas panggung.
Sifat aksi panggung SLANK yang terbentuk sejak 28 tahun akibat interaksi mereka dengan para penonton di lapangan dan jenis penonton yang cenderung responsif, serta spontan.
Ketika dibawa ke jenis penonton yang disebut Slankers Wangi yang notabene lebih baik secara edukasi dan strata ekonomi, pemanfaatan orkestra yang memang akrab dengan market ini menjadi agak keteteran.
Konsep memang megah, namun terkesan mubazir di beberapa lagu karena memang efek orkestrasinya tidak begitu terasa.
Dan untungnya konduktor Indra Perkasa memiliki latar belakang sebagai musisi jazz, bukan dari musik klasik. Jazz memiliki filosofo yang mirip dengan jenis musik rock n roll yang diusung SLANK. Dua jenis musik ini menonjolkan imrpovisasi, tanpa terkungkung oleh partitur-partitur saklek, seperti dalam musik klasik.
Aransemen yang dilakukan oleh trio Aghi Narottama, Bembi Gusti dan Ramondo Gascaro berhasil menampilkan lagu-lagu SLANK dalam perspektif baru tanpa menghilangkan jiwa asli SLANK. Ini adalah kerja pertama trio composer yang sering bekerja sama dalam film-film Joko Anwar (Pintu Terlarang, Modus Anomali). Meski pernah menggarap musical Onrop, tetap saja tantangan besar dihadpi trio Bembi-Aghi-Ramondo.
Karena mereka terbiasa menciptakan aransemen asli dan kali ini mereka harus melakukan aransemen terhadap lagu orang lain yang sudah dikenal banyak orang.
Namun, SLANK tetaplah SLANK. Meski tampil di depan Slankers Wangi, mereka tetaplah grup band yang urakan dan slenge'an. Mereka bermain-main di panggung, seolah panggung adalah tempat bermain mereka.
Lihat saja aksi Bim Bim memotong celana panjangnya hingga menjadi hot pant seksi. Atau Kaka yang membuka baju atau berceloteh tentang kritik sosial.
SLANK adalah nyawa musik Indonesia. Dan mereka sekali lagi membuktikan, dengan atau tanpa orkestra, mereka bisa membuktikan bahwa mereka bisa "membunuh" penonton dengan musik mereka
You Slank Us.
(tz/bc)
Komentar