Copyright © 2002 - 2013 PT. BOLEH NET INDONESIA.
Blitzmegaplex
Kabar besar dilansir oleh situs Tempo.Co saat merilis berita terkait bisnis film dan bioskop hari ini. Berita itu adalah bahwa bioskop yang selama ini dikenal sebagai ruang putar film-film alternatif, Blitzmegaplex, akan diakuisisi oleh MNC Groups.
Konglomerasi MNC Groups adalah sebuah grup bisnis yang juga memiliki saluran televise seperti RCTI, Global TV dan juga jaringan televisi yang ditayangkan di saluran televisi berbayar.
Kabar bahwa Blitzmegaplex akan diakuisisi oleh MNC Groups sebenarnya sudah lama beredar. Saat menghadiri sebuah acara di Blitzmegaplex Grand Indonesia beberapa saat lalu, Boleh.Com sudah mendengar dari salah satu sumber bahwa Blitzmegaplex akan diakusisi oleh konglomerasi milik Hary Tanoesoedibjo tersebut.
Segera setelah itu, Boleh .Com mencoba melakukan konfirmasi terkait hal tersebut kepada salah satu pihak yang mengelola manajemen Blitzmegaplex, dalam hal ini PT Graha Layar Prima. Namun, saat itu pihak Blitzmegaplex belum mau memberikan konfirmasi.
"Belum ada kesepakatan, " begitu jawab sang sumber.
Seperti diberitakan oleh Tempo.Co, MNC Groups bukanlah satu-satunya pihak yang tertarik untuk mengakuisisi Blitzmegaplex. Sebelumnya bioskop yang berdiri di 6 titik di Jabodetabek dan 1 titik di Bandung ini, mengharapkan bahwa konglomerasi asal Korea Selatan, Lotte Group, berminat untuk menanamkan modal di sana.
Lotte Group sendiri sudah memiliki jaringan hipermarket di Indonesia dan dikabarkan tertarik untuk membuka jaringan bioskop. Kabar ini sudah terdengar sejak awal tahun, namun saat ini masih belum bisa terealisasi. (baca artikel terkait ujaran Dirjen Film, Ukus Kuswara, terkait bioskop Lotte Group).
Belum terealisasinya jaringan bioskop Lotte Group dikarenakan investasi bioskop di Indonesia masih bersifat investasi negatif sehingga banyak investor asing merasa enggan (baca wawancara dengan President MPA Asia Pasifik ).
Salah satu komisaris Blitzmegaplex, A. M Hendropriyono, sempat mendekati CT Corp milik Chairul Tanjung. Hal ini disebabkan Hendropriyono juga menjadi komisaris PT Carrefour Indonesia, yang 40 persen sahamnya dimiliki CT Corp.
Akan tetapi CT Corp, melalui juru bicaranya Ishadi S.K,menolak tawaran Hendropriyono untuk membeli separuh saham PT Graha Layar Prima (pengelola Blitzmegaplex). Seperti dikutip dari Tempo.Co, CT Corp merasa harga dan strategi bisnis dari Blitz tidak sesuai.
Blitzmegaplex pun sempat mengincar Lippo Group, bahkan sempat mempresentasikan model bisnisnya dengan bantuan Peter F. Gontha ( Komisaris Utama PT. First Media Tbk, anak perusahaan Lippo di bidang televisi berbayar dan layanan data –red).
Namun dikarenakan banyak gedung milik Lippo Groups bekerjasama dengan jaringan bioskop terbesar, 21 Cineplex, Lippo Groups kemudian mundur teratur.
Dan kini MNC dikabarkan merasa yakin bahwa melalui anak perusahaan mereka, PT MNC SkyVision Tbk, mereka bisa memperkuat dan meluaskan Blitzmegaplex.
Sebagai catatan jaringan Blitzmegaplex memang tidak sanggup bersaing dengan 21 Cineplex. Sebagai perbandingan Blitzmegaplex hanya memiliki 66 layar di 7 lokasi, sementara 21 Cineplex memiliki 500 layar bioskop.
Blitzmegaplex sejak didirikan enam tahun lalu, terkesan semakin sepi . Bisa dilihat dari antrian penonton di Blitzmegaplex Grand Indonesia, misalnya. Semakin lama antrian semakin sepi, bahkan terlihat jumlah karyawan yang melayani pun penonton semakin lama semakin berkurang.
Blitzmegaplex sendiri dikabarkan terlibat hutang sebesar 250 miliar rupiah kepada Quvat Management Pte Ltd, pengelola dana investasi di Singapura. Dan itu belum lunas.
Menurut Majalah Tempo, dikabarkan selama beroperasi, Blitz yang didirikan oleh Ananda (mantan suami aktris Prisia Nasution ) bersama David Hilman—pendiri Prisma Technologies, pengembang software berbasis di Singapura—ini masih minus lebih dari Rp 500 miliar.
Dan sebagai gambaran untuk mendirikan satu gedung bioskop, dibutuhkan sekitar 1,5 milyar rupiah.
Sampai artikel ini diturunkan, baik pihak MNC Groups maupun Blitzmegaplex belum memberikan keterangan resmi. Tetapi, semoga dengan "diselamatkannya" Blitzmegaplex, membuat kita bisa menikmati festival INAFFF tahun depan.
(tz/bc)
Komentar