Copyright © 2002 - 2013 PT. BOLEH NET INDONESIA.
Habibie & Ainun
Selalu menarik bila menyaksikan sebuah film yang ceritanya berdasarkan kisah hidup tokoh terkenal. Hal ini dikarenakan publik disajikan paparan kisah yang kemungkinan tidak pernah diketahui sebelumnya.
Hal itulah yang membuat Habibie & Ainun menarik untuk ditonton. Kita semua tahu bahwa kisah cinta mantan presiden dengan masa pemerintahan tersingkat dalam sejarah republik ini tersebut amat romantis. Sebuah kisah yang kemudian menginspirasi banyak orang dan kemudian dituangkan dalam sebuah buku otobiografi dan memoar berjudul sama seperti filmnya.
Dari judulnya, film Habibie & Ainun sudah mengerucut pada satu konklusi. Film ini akan menyorot perjalanan romansa B.J Habibie dengan mendiang Hasri Ainun Besari, yang kemudian lebih dikenal dengan Ainun Habibie.
Tidak ada yang salah memang, karena sekali lagi kisah romansa kedua tokoh tersebut, sangat menginspirasi kaum muda untuk mencari figur percintaan ideal.
Akan tetapi sayangnya, spirit dalam film ini menjadi "rusak" karena sentuhan komersil yang tidak perlu.

KISAH ROMANTIS "DUNIA MILIK BERDUA", REZA RAHADIAN YANG MENYELAMATKAN
Kisah di Habibie & Ainun memaparkan runutan perjalanan cinta kedua tokoh utamanya, sedari sekolah menengah atas, hingga ke akhir hayat Ainun Habibie.
Sejak awal film, Ainun digambarkan sebagai sosok gadis populer di sekolah. Ainun muda (diperankan dengan sangat manis oleh aktris muda, Marsha Natika), namanya dielu-elukan oleh rekan sejawatnya di sekolah saat pertandingan bola kasti. Ainun memang populer dan manis. Semanis gula Jawa.
Penonton juga sudah diberikan informasi bahwa Ainun muda sudah tertarik menjadi dokter. Di awal film kita diperlihatkan adegan Ainun muda merawat kaki salah satu rekannya yang terluka.
Sementara, Habibie muda (diperankan oleh Esa Sigit), digambarkan sebagai pemuda cerdas dan nerd. Kita semua tahu bahwa Habibie adalah pribadi jenius. Kejeniusannya bahkan membuat guru sekolahnya (diperankan oleh Hengky Sulaeman), harus memanggil Habibie untuk menerangkan sebuah teori di kelas lainnya.
Dari sini, penonton sudah diberitahu bahwa mereka berjodoh satu sama lain. Hal ini dipertegas oleh pernyataaan sang guru dengan kalimat, " Memang kalian ini jodoh,".
Selanjutnya penonton dibawa ke perjalanan kisah cinta dua sejoli ini. Mulai dari Habibie yang mengambil studi lanjutan teknik mesin di Jerman, hingga bagaimana ia memulai karirnya sebagai "tukang insinyur" yang berhasil membuat rekannya terkesan karena berhasil membuat gerbong dengan bahan yang mampu menahan gaya berat.
Penonton juga dipaparkan bagaimana dua sejoli tersebut melalui berbagai perjuangan hidup. Dari masa sulit semasa hidup sebagai perantau di Jerman, masa Habibie ditunjuk sebagai menteri riset dan teknologi, era di mana ia menjadi presiden, hingga ke masa akhir hidup Ainun.
Kisah di film Habibie & Ainun didasarkan pada buku setebal 323 halaman berjudul sama yang ditulis oleh B.J Habibie.
Film ini juga menjadi penanda semakin seriusnya Faozan Rizal sebagai sebagai sutradara. Faozan Rizal sebelumnya lebih dikenal sebagai director of photography (dop ) handal negeri ini.
Habibie & Ainun juga merupakan hasil kolaborasi Faozan dengan Hanung Bramantyo, setelah sebelumnya pernah bekerjasama dalam beberapa judul film. Sebut saja Tanda Tanya, Tendangan Dari Langit dan Pengejar Angin.
Film ini bukanlah kali pertama Faozan duduk di kursi sutradara. Sineas yang menikah dengan penari kelahiran Jerman, Katia Engel¸ tersebut pernah menyutradarai beberapa film feature dan pendek. Ada Yasijuro's Journey (2004) dan Aries (2004). Penulis pernah menonton film pendek karya Faozan Rizal yang berjudul Light Poem.
Ada keindahan mempesona bak puisi dalam film Light Poem. Film dengan gaya visual dan penceritaan yang amat berbeda dengan Habibie & Ainun.
Sebagai karya pertama Faozan Rizal yang ditayangkan secara luas di bioskop, Habibie & Ainun lantas menampilkan cita rasa seorang Hanung Bramantyo, yang dalam film ini menjabat sebagai produser.
Sesuatu yang kemudian menimbulkan pertanyaan, seberapa besar sentuhan Faozan Rizal dalam film ini? Ataukah MD Entertainment sebagai rumah produksi menjadi penentu utama dalam sistem produksi film ini?
Film ini memang terasa sebagai film Hanung. Humor, dialog dan gaya penceritaanya sangat khas Hanung. Suatu hal yang bisa disaksikan dalam film Ayat-Ayat Cinta dan Tanda Tanya.
Habibie & Ainun, yang naskahnya ditulis oleh Gina S. Noer, Ifan Adriansyah Ismail dan juga Faozan Rizal,kemudian terjebak pada kisah romantis nge-pop yang menafikan isu-isu penting dalam perjalanan hidup Habibie dan Ainun, sebagai sosok negarawan.
Kisah romantis nge-pop yang kemudian menjadi sempit, dalam menerjemahkan kisah romansa "dunia hanya milik berdua". Film ini juga kemudian memutuskan untuk menggambarkan Habibie sebagai sosok "putih" dalam kelamnya sejarah politik Tanah Air.
Sebagai pasangan negarawan, setidaknya ada beberapa babakan penting dalam perjalanan hidup Habibie dan Ainun, yang semestinya bisa mempertegas bagaimana kekuatan cinta mereka mengatasi berbagai konflik dalam kehidupan mereka.
Babakan penting tersebut antara lain saat Habibie menuntut ilmu di Jerman, masa ia membuka Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), saat Habibie menjadi presiden dan keputusannya melepas Timor Timur dengan memberikan daerah tersebut kesempatan untuk referendum.
Keputusan Habibie melepas Timor Timur bahkan masih menuai kontra hingga sekarang. Saat mantan menteri penerangan Malaysia, Zainuddin Maidin, mengatakan bahwa Habibie adalah negarawan yang lemah.
Tapi Habibie & Ainun memilih menjauh dari berbagai isu politik yang bisa memberikan penggambaran lebih utuh terhadap kisah cinta dua negarawan tersebut. Film ini hanya menampilkan sosok Habibie sebagai seorang pecinta, sehingga menjadikan kisahnya bak sebuah drama romantis picisan.
Kita memang diberi informasi berbagai kejadian di kehidupan Habibie dan Ainun. Ditambah lewat keterangan teks yang menjelaskan masa dan tempat kejadian. Namun, semua hanya merupakan informasi sekali lewat.
Penonton diberitahu bahwa sejak awal kepulangan Habibie ke Tanah Air, ia disambut bak pahlawan. Sejumlah orang berpakaian serba hitam menyambutnya di bandara. Habibie juga mendapat tekanan politik, lewat sebuah karakter yang menyebut nama "bapak" yang tidak senang dengan tindakan Habibie.
Siapa "bapak" tersebut? Apakah mendiang Soeharto?
Kita juga diberikan sebuah karakter bernama Sumohadi (diperankan oleh Hanung Bramantyo), yang dalam film ini digambarkan sebagai karakter antagonis. Kehadiran Sumohadi digambarkan bak sosok mafia berkedok pengusaha yang memiliki kekuatan maha dahsyat untuk mengubah berbagai kebijakan negeri ini.
Sumohadi pertama kali diperkenalkan sebagai "anak" oleh karakter mendiang Soeharto (diperankan oleh Tio Pakusadewo), di sebuah pesta di kediaman Habibie. Sumohadi lalu digambarkan berusaha menyuap Habibie untuk memenangkan proyek IPTN pimpinan Habibie, lewat berbagai jalan. Jam tangan Rolex mahal, wanita cantik, hingga segepok uang.
Segala upaya penyuapan itu ditolak oleh Habibie dan itu membuat (lagi-lagi) tokoh "bapak" yang misterius tidak senang. Tapi, tidak dijelaskan secara tuntas siapakah "bapak" itu.
Hadirnya karakter Sumohadi lantas membuat film Habibie & Ainun, bak kisah romansa telenovela fiktif kebanyakan. Tokoh utama menjadi sosok pahlawan "bersih" putih, sementara Sumohadi adalah karakter antagonisnya.
Bila sedari awal Habibie & Ainun ditujukan menceritakan kisah cinta romantis, kenapa lalu dihadirkan karakter Sumohadi yang tidak dijelaskan secara tuntas? Bila film ini ingin menjauh dari isu politik, kenapa pula menyinggungnya?
Hal tersebut di atas hanya menjadi salah satu dari berbagai informasi yang hilang dalam film ini. Hal lain yang menjadi hilang kemudian, saat tidak diceritakan secara jelas kedua putra Habibie dan Ainun yang bernama Akbar dan Thareq Kemal Habibie.
Kita hanya diberitahu kedua putra Habibie lahir di Jerman dan kemudian tahu-tahu kedua putra Habibie tersebut, muncul saat peresmian pesawat N-250 di tahun 1995.
Banyak penonton tidak mengetahui ada sosok putra Habibie di sana (diperankan oleh Mike Lucock). Penonton hanya akan mengira bahwa sosok yang diperankan oleh Mike adalah rekan Habibie. Postur dan perawakan karakter Mike, bahkan terlihat sebaya dengan sosok Habibie yang diperankan oleh Reza Rahadian. Penonton tidak diberitahu informasi yang cukup, tahu-tahu karakter itu ada.
Ketidak jelian film Habibie & Ainun dalam memberikan detail informasi banyak tersebar di sana-sini.
Dalam beberapa dialog yang terjadi di masa tahun 50 dan 60'an, terasa penggunaan beberapa kata yang sepertinya kurang lazim digunakan pada zaman itu. Penggunaan diksi seperti " kayak " atau 'gimana" membuat film ini terasa dituturkan dari kacamata orang yang tinggal di Jakarta pada era modern.
Baiklah, bila gaya hidup Habibie dan Ainun pada masa itu sudah sangat modern. Mereka berdansa dan bercengkrama dengan rekan-rekannya seperti gaya pergaulan muda-mudi moderen di zamannya. Tapi apakah itu kemudian memaklumkan dialog mereka berhasil melintasi ruang waktu? Terkesan film ini tidak mempedulikan keakuratan detail budaya.
Ketidakakuratan juga kemudian terlihat pada divisi tata rias.
Tata rias Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari tidak memberikan informasi penuaan karakter ini. Dari waktu ke waktu tidak terlihat perjalanan waktu dalam wajah mereka. Bahkan di satu titik terlihat kedua putra mereka terlihat jauh lebih dewasa dan tua dibandingkan mereka sendiri.
Kemalasan film ini memperhatikan detail kecil seperti itu amat disayangkan, karena Reza Rahadian sudah melebur sejadi-jadinya untuk menjadi Habibie.
Kabarnya Reza Rahadian hanya memiliki waktu satu minggu saja untuk mempelajari karakter Habibie. Sebuah upaya luar biasa yang membuktikan Reza sebagai salah satu aktor Indonesia terbaik saat ini.
Reza menghadirkan gesture dan gaya berbicara Habibie dengan amat meyakinkan. Saat ia berjalan, berbicara bahasa Jerman, mimik dan bahasa mukanya terlihat amat luar biasa. Namun, ketidakjelian tata rias lantas membuat usaha Reza menjadi tidak maksimal.
Hal yang kemudian memancing tawa adalah saat foto Reza sebagai Habibie disandingkan dengan foto mendiang Soeharto saat ia menjadi wakil presiden. Penonton tertawa, alih-alih terkesima. Suatu hal yang kemudian menjadikan adegan ini bak sebuah dagelan dan ini amat disayangkan.
Reza (dan penampilan sekilas Tio Pakusadewo sebagai Soeharto) adalah satu-satunya penyelamat dalam film Habibie & Ainun.
Bunga Citra Lestari tampil sebagaimana ia di film-filmnya sebelum ini. Dia tidak melebur sebagai Ainun, seperti Reza melebur sebagai Habibie. Sangat terlihat permainan akting Reza-lah yang menolong permainan akting Bunga Citra Lestari.

SENTUHAN KOMERSIL YANG BANAL
Amat disayangkan MD Entertainment menjadikan film Habibie & Ainun seperti Ayat-Ayat Cinta ataupun Di Bawah Lindungan Ka'Bah (baca kembali resensinya).
Tengok saja score dan ilustrasi musik bergaya "pop" yang terlantun di sepanjang film. Alih-alih menguatkan, musik dalam film ini membuat film ini bertambah seperti drama romantis anak muda yang cengeng.
Perlakuan MD Entertainment terhadap cerita di film ini, lantas menjadikannya bak sebuah kisah romantis picisan. Hanya memakai Habibie dan Ainun sebagai gimmick untuk tujuan komersil semata.
Perlakuan tersebut semakin parah, saat ditampilkan berbagai products placement secara banal dan serampangan yang merusak esensi film ini. Sesuatu yang pernah terjadi di Di Bawah Lindungan Ka'bah.
Bisa dimaklumi bila sebuah film memerlukan sponsor untuk menunjang pembiayaan produksi. Tapi apakah hal tersebut lantas memaklumkan sebuah film menjadi sarana promosi bak video iklan?
Yang membuat film ini menjadi tidak bermakna adalah karena kisahnya berdasarkan kisah romantis dua negarawan yang dihormati. Tidak masalah bila perlakuan yang diterapkan dalam film Habibie & Ainun, dilakukan di film lain yang berdasarkan kisah novel romantis fiksi.
Bila hanya ingin menampilkan kisah romantis untuk pencapaian box-office, kenapa harus memakai karakter Habibie dan Ainun?
Tidak bermaksud untuk tidak menaruh hormat kepada Pak Habibie dan mendiang Bu Ainun. Namun, keputusan menyajikan Habibie &Ainun menjadi sebuah kisah romantis "dunia milik berdua" dengan cita rasa komersil banal, membuat penonton tidak mendapat gambaran utuh sosok dua sosok putera terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia ini.
Andai saja sosok Habibie digambarkan lebih utuh sebagai seorang cendikiawan, politikus dan negarawan maka film ini akan lebih nikmat untuk ditonton.
Penonton butuh tahu bagaimana Ainun menjadi sokoguru Habibie dalam mengambil keputusan politiknya. Penonton juga butuh tahu sumbangsih Ainun sebagai sosok wanita cerdas dalam mendukung Habibie saat mengalami masa sulit diterpa banyak isu dan gunjingan.
Amat disayangkan film ini tidak menyajikan hal itu.
2 dari 5 untuk film ini.
(tatzu)

Komentar
pas banget ama yg ada di pikiran saya.. rasanya terlalu komersil, kurang matang menggali latar masa lalu,
kejar tayang kali yaa