Cinema News

Selasa, 17 April 2012 23:22

[Resensi] Mirror Mirror : Interpretasi Dongeng Klasik Yang Tanggung

Mirror Mirror

Pilihan merekonstruksi sebuah cerita anak-anak klasik menjadi sebuah film masa kini adalah sebuah tindakan yang beresiko. 

Sebuah cerita dongeng klasik bertahan bertahun-tahun adalah karena cerita yang sederhana dan diceritakan pada masa kanak-kanak. Sebuah dongeng bagi anak-anak adalah bak pintu baru menuju sebuah pemahaman hidup.

 Itu sebabnya kebanyakan dongeng berkisah tentang keajaiban, baik-buruk, hitam putih dan dogma bahwa yang jahat akan selalu kalah. Hal ini sebagai suatu pondasi awal yang akan membentuk pemahaman mereka tentang hidup, di suatu tahapan di mana anak-anak belum bisa mencerna sebuah permasalahan rumit. 

Dongeng bak sebuah "kelas" dasar agar anak-anak mengenal dunia dengan sesuatu yang ringan, menyenangkan dan akan mereka bawa dalam mimpi indah.

 Tentu saja semakin dewasa, anak-anak tersebut akan mendapati bahwa dongeng adalah suatu hal yang abstrak dan muluk. Dan ini juga membuat perspektif terhadap dongeng bergeser. 

Rekonstruksi ulang sebuah dongeng anak-aanak dari kacamata orang dewasa sering dilakukan berkali-kali. Umumnya bila tidak menjadi semacam parodi, akan menjadi bentuk baru dengan sentuhan hasrat dewasa di dalamnya. 

Alice in Wonderland berubah menjadi cerita penuh warna menjadi sajian gothic khas Tim Burton. Atau Red Riding Hood mendapat sentuhan erotisme dari sutradara Twilight¸ Catherine Hardwicke

Lalu apa yang menjadi keistimewaan hasil rekonstruksi dongeng Snow White versi Tarsem Singh

Tidak lebih dari sebuah sajian dongeng dengan sajian visual khas Singh yang pernah ditampilkannya di The Cell, The Fall atau Immortal, namun terasa amat tanggung dan datar secara emosi. 

Film Snow White dibuka dengan narasi yang disuarakan oleh Ratu Jahat (Julia Roberts) bahwa ia adalah penguasa baru di sebuah negeri antah berantah. 

Dia menikah dengan seorang raja (diperankan oleh Sean Bean). Ambisi Ratu Jahat untuk menguasai kerajaan membuat ia menyingkirkan Raja ke sebuah hutan dan kemudian tidak pernah terlihat sejak saat itu. 

Bertahun-tahun kemudian negeri yang dipimpin oleh Ratu Jahat menjadi kacau. Kelaparan di mana-mana dan keuangan negeri menjadi bangkrut. Hal ini disebabkan karena ambisi Ratu Jahat untuk mempertahankan kecantikannya lewat serangkaian ritual yang didapatnya dari seorang penasihat sihirnya. 

Ambisi itu semakin meninggi saat sang penyihir memberikan sinyalemen ancaman anak tiri Ratu Jahat yang bernama Snow White (Lily Collins). Bahwa Snow White akan menjadi gadis cantik pesaing dirinya. 

Sementara Snow White adalah putri yang memiliki kcerdasan dan kegelisahan akan tindak tanduk sang ratu dalam memerintah. Suatu saat ia memutuskan keluar kerajaan dan melihat bahwa rakyat yang dulu gemar bernyanyi, kini hidup dalam kelaparan dan kemiskinan. 

Hal ini disebabkan dari pungutan pajak hasil kebijakan Ratu Jahat, yang dikumpulkan oleh ajudan pribadi sang ratu yang bernama Brighton (Nathan Lane). 

Saat keluar kerajaan itulah Snow White bertemu dengan Pangeran Alcott (Armie Hammer), yang baru saja dirampok oleh 7 orang kurcaci. Mereka berdua menampakan ketertarikan satu sama lain. Namun Snow White tidak mengetahui bahwa Pangeran Alcott akan menuju kerajaannya dan pun dengan Alcott yang tidak tahu bahwa Snow White adalah seorang putri kerajaan. 

Ratu Jahat yang mengalami kebangkrutan lantas melihat Pangeran Alcott yang kaya raya sebagai pihak yang bisa menyelamatkannya dari krisis ekonomi. Akan tetapi harapan itu kemudian mendapat ancaman, tatkala sang pangeran bertemu kembali dengan Snow White

Snow White pun kemudian dibuang ke hutan terlarang. Ia lalu bertemu dengan 7 kurcaci perampok dan lalu menjadi persahabatan dengan mereka. 

Bisa ditebak, Snow White dan 7 Kurcaci lalu bekerjasama untuk melawan sang Ratu Jahat

REKONSTRUKSI DAN INTERPRETASI DONGENG KLASIK YANG TANGGUNG

Mirror Mirror adalah sebuah upaya rekonstruksi ulang dongeng klasik Grimm Brother, yang relatif setia dengan cerita klasiknya. Cerita yang sederhana, karakter-karakter yang berperan komikal, dihiasi dengan beberapa "sentuhan" baru di penokohan dan kejadian. 

Karakter 7 Kurcaci, misalnya. Alih-alih digambarkan sebagai penebang kayu, 7 kurcaci ini ditampilkan bak perampok dari Hutan Sherwood, Robin Hood and the Merry Men

Sesuatu yang baru tidak hanya diberikan kepada cerita Snow White versi Tarsem Singh terhadap penggambaran 7 kurcaci, melainkan juga kepada karakter Ratu Jahat yang diperankan oleh Julia Roberts.

Sang Ratu tidak digambarkan bertanya kepada cermin perihal " mirror..mirror on the wall. Who's the fairest of them all,". Cermin digambarkan sebagai portal yang membawanya ke dunia lain, di mana Sang Ratu menemui penasihat sihir pribadinya. Sang Ratu digambarkan selalu masuk ke dimensi lain dengan menggunakan gaun berwarna emas kebesarannya. 

Atau saat Sang Ratu berusaha membunuh Snow White dengan menggunakan jasa penyihir pribadinya. 

Jika Enchanted (2007) berhasil melakukan definisi ulang dengan sentuhan komedi tanpa menghilangkan esensi cerita klasiknya, Mirror Mirror mencoba melakukan hal yang sama. 

Mirror Mirror memang merupakan film milik Tarsem Singh secara visual. Seperti halnya The Cell, The Fall atau filmnya tahun lalu, ImmortalTarsem masih melakukan sentuhan yang sama. 

Set megah seperti pada gambaran kerajaan seperti kue ulang tahun dan vice versa, berbanding dengan kostum berwarna terang dominan merah dan emas. Warna cerah ditampilkan kontras dengan lingkungan yang suram. 

Tarsem kembali bekerja dengan para kru yang pernah bekerja dengannya di film-film sebelum ini. Termasuk dengan desainer mendiang Eiko Ishioka, yang membuat rancangan kostum yang mewah. Wajar bila tone Mirror Mirror sangat kental dengan nuansa yang pernah ditampilkan Singh di film-filmnya sebelum ini. 

Tarsem Singh yang berdarah India seolah menjadikan setiap filmnya bak perayaan Holi yang berwarna-warni cerah yang berbanding terbalik dengan lingkungan masyarakat India yang kumal. 

Tampilan visual ini selaras dengan eksekusi gambar oleh director of photography, Berendan Galvin, yang dibawakan dalam pergerakan action driven yang dinamis. 

Penulis naskah Marc Klein dan Jason Keller (dari screen story Melissa Wallack) mencoba memberikan sentuhan komedi di film yang mencoba setia dengan kisah dongeng klasiknya ini. 

Film ini menyajikan serangkaian dialog yang dimaksudkan untuk melucu, namun harus diakui terkesan datar. Kebanyakan dari pelakon di Mirror Mirror menggunakan aksen British. Dan itulah yang menyebabkan dialog-dialog terkesan datar dan "tanggung" dalam membangun atmosfer komedi. 

Mengapa tanggung? Karena gaya visual Tarsem Singh terasa bias saat disempilkan humor. Gaya visual Tarsem Singh cenderung "dingin" dan serius, sehingga humor tidak tersampaikan dengan efektif. 

Untungnya Mirror Mirror memiliki aktris sekaliber Julia Roberts. Dia tampil komikal sebagai Ratu Jahat. Roberts bisa menyajikan pembawaan elegan seorang ratu. Roberts memang memiliki aura yang menyenangkan, sehingga meski menjadi pas saat berperan sebagai Ratu Jahat yang cenderung konyol. 

Dia tampil menonjol di antara para pemeran utama lain. Gestur tubuhnya bisa menyampaikan humor, meski juga tidak lantas menjadi istimewa. 

Adegan favorit yang melibatkan Roberts adalah saat ia harus menjalani serangkaian perawatan kecantikan tak lazim, mulai dari memakai masker kotoran burung, hingga suntik bibir dengan menggunakan sengatan lebah. 

Perannya sebagai Ratu Jahat seperti antitesis dari perannya di Runaway Bride. Di film rilisan tahun 1999 itu, Roberts harus lari dari berbagai perkawinan yang dijalaninya. Sementara di Mirror Mirror, Roberts justru mencari pernikahan-pernikahan baru.  

Aktris Lily Collins tampil manis sebagai Snow White. Tampil dalam kulit pucat dan rambut hitam, aktris putri dari penyanyi Phill Collins ini mampu menampilkan aura romantis menyenangkan dalam rupanya. Collins adalah tipikal aktris yang bisa memerankan karakter dongeng klasik. Ia pun bisa membawakan komedi dengan baik. 

Sementara Armie Hammer secara mengejutkan bisa menghadirkan nuansa komedi lewat penampilannya sebagai Pangeran Alcott. Saat ia harus ditelanjangi atu saat berduel dengan Snow White, Armie bisa membuat bahasa tubuh lelucon yang enak dilihat. Perpaduan emosinya pun terjalin bagus dengan Lily Collins

Interpretasi Tarsem Singh yang paling menarik di sini adalah saat ia menghadirkan 7 kurcaci perampok dengan menggunakan semacam enggrang hidrolik. 

7 kurcaci bernama Chuckles,Butcher, Wolf, Grimm, Grub,Half Pint dan Napoleon tersebut berhasil membawa momen-momen komedi. Mereka tampil lucu dan menggemaskan. 

Mirror Mirror memang film untuk keluarga yang manis dan menyenangkan secara visual. Namun, ada semacam perasaan "tanggung" saat menyaksikannya. Penonton akan terhibur saat menonton film ini, tapi akan segera melupakannya. Karena di satu sisi Mirror Mirror terletak di antara film untuk orang dewasa dan anak-anak. Sebuah posisi di tengah-tengah yang tidak terasa istimewa 

Terlebih nanti akan ada intepretasi baru tentang Snow White garapan Rupert Sanders yang sepertinya akan lebih kelam dan dewasa. 

Dan di akhir film, akan ada nyanyian bernuansa irama India untuk membuktikan bahwa Tarsem Singh bangga akan identitasnya. 

Penilaian total (2,5/5)

(tz/bc)


Related News

Komentar

Kirim komentar
  • Karakter tersisa
  •