Copyright © 2002 - 2013 PT. BOLEH NET INDONESIA.
Pulau Hantu 3
" Jenis penonton yang saya bidik di Pulau Hantu 3 adalah jenis penonton yang tidak sabaran. Ini jenis film yang on your feeling. Artinya apa? Kita buka layer ( lapisan-red) satu, layer dua, layer tiga. Tapi proses membuka lapisannya itu cepet. Kalau Pulau Hantu 1dan 2, masih ngikutin proses. Mulai dari karakternya dateng, sampe akhir film, " ujar Jose Purnomo saat pemutaran terbatas Pulau Hantu 3 beberapa waktu lalu.
Jose Purnomo mengatakan treatment yang dia lakukan di Pulau Hantu 3 adalah hasil observasinya di beberapa bioskop pinggir kota yang selama ini merupakan ceruk pasar terbesar film Indonesia.
Dari hasil pengamatannya, kebanyakan penonton di jenis bioskop seperti itu adalah tipikal yang memang tidak berniat menonton bioskop.
"Biasanya mereka berkelompok, ngeliat etalase film di bioskop dan ngomong sama temen-temennya, " wah, kayaknya film ini seru, ". Lalu nonton lah mereka. Kadang abis nonton, mereka ngeliat film lain dan berpikir itu seru dan mereka nonton lagi. Jadi cerita bagi mereka itu nggak penting. Penonton kita ya seperti itu. Mereka nggak tau ada twist atau nggak, " Jose Purnomo menjelaskan lebih jauh.
Dan dari pengalamannya di Pulau Hantu 2, Jose melihat kelompok yang menonton film di bioskop pinggir kota tersebut, menonton filmnya hanya karena melihat poster film. Mereka baru menentukan mau menonton apa, ketika mereka sampai di bioskop. Dan ketika film berjalan, mereka juga belum masuk ke bioskop karena masih menunggu teman yang belum tiba.
"Padahal lima menit pertama film saya itu men-define apa itu film saya. Tapi penonton kita tidak appreciate itu. Makanya, kita adaptif. Kita harus scatter around. Ini jenis film yang lu masuk ke bioskop kapan aja, lu bisa ngakak. Nggak ada twist, nggak ada yang namanya plot linear, atau segala macam, " Jose Purnomo memaparkan lebih jauh.
Itu adalah obrolan Penulis dengan Jose Purnomo seusai pemutaran terbatas untuk wartawan dalam film produksi terbaru MVP Pictures, Pulau Hantu 3. Dari penjelasan Jose mengenai filmnya yang tidak mengenal plot cerita, kita tentu memang tidak bisa mengharap banyak dari film sejenis ini.
Pulau Hantu 3 adalah lanjutan dari film sebelumnya, Pulau Hantu ( 2007) dan Pulau Hantu 2 ( 2008).
Dan kemudian Pulau Hantu 3 menjadi sebuah film yang menjual "keindahan", namun suatu keindahan yang dangkal dan justru sama sekali tidak indah.
Bercerita tentang PULAU Madara dibuka kembali, kini punya pemilik baru. Serangkaian kematian misterius telah terlupakan. Pulau Madara menjadi resor yang makin eksotis dan menjadi tujuan wisata anak muda paling menyenangkan. Nero ( Abdurrahman " Abdul" Afif ), Kimo ( Ricky Adi Putra), Octa ( Reynavenzka), dan Gaby ( Jeny Cortez) menerima pekerjaan sebagai pegawai resor. Ketika sampai di pulau, Nero merasa seperti dejavu!
Nero tidak asing dengan pulau Madara. Teman-temannya satu demi satu terbunuh hantu di belakang pulau. Sayang, rasa takut dan keinginannya menceritakan horor kematian teman-temannya lenyap, seiring kehadiran tamu-tamu resor nan cantik dan seksi. Aiko (Ayu Permatasari ) , Zarra Monca ( Laras Monca ), Amel ( Amelia Alfiani ), Rheina dan Johanna ( Johanna) , bahkan sang manajer resor, Monica (Sinta Bachir), mampu menyingkirkan rasa takut dan trauma Nero. Nero dan Kimo menikmati pemandangan luar biasa ini
Sayang, kesenangan mereka terganggu setelah satu demi satu tamu resor menghilang. Awalnya Nero, Kimo dan Monica menduga tamu-tamu yang menghilang itu check-out tanpa sepengetahuan hotel. Atau mereka dianggap pelesir mengeksplorasi pulau. Kecurigaan Nero terhadap Kadir, pelayan hotel yang sering ke belakang pulau, juga tak beralasan. Kadir memang selalu mengirim sesaji untuk penghuni belakang pulau, tapi dia tidak melakukan ritual apapun.
Kematian Aiko, Monca, Amel, Rheina, Johanna dan kekasihnya, lalu Zarra, menemukan jawabannya. Mereka tidak meninggalkan pulau karena barang-barang ditemukan dalam keadaan utuh
Patigana ( Boy Hamzah ), pemilik resor yang baru, menjadi sosok paling misterius. Patigana menjalani ritual membangkitkan mayat istrinya. Nero menyaksikan semua keanehan ini. Tapi ancaman kematian juga mengancam nyawanya. Hanya satu harapan Nero untuk menghadapi serangkaian kematian misterius tersebut.

BAGAIKAN SEKUMPULAN SKETSA, VIDEO KLIP YANG DIPANJANGKAN DAN DANGKAL
Dan ketika Penulis menonton Pulau Hantu 3, Penulis setuju dengan semua yang dikatakan Jose.
Pulau Hantu 3, sama sekali tidak memiliki plot cerita. Film ini bagaikan sekumpulan sketsa yang sama sekali tidak memiliki korelasi.
Menyaksikan film ini bagaikan melihat teknik kolase, sekumpulan peristiwa ( dan wanita seksi dalam beberapa frame ) di pantai , namun tidak memiliki kesinambungan dan korelasi yang kontekstual.
Tengok saja, ketika ada sebuah adegan di kolam renang, di mana sekumpulan wanita berbalut bikini mengobrol tentang seorang pria seksi, Patugana. Tiba-tiba saja selang beberapa saat, adegan beralih kepada wanita lain bermain voli.
Masih terlalu banyak adegan yang tidak ada hubungan satu sama lainnya di film ini untuk disebut. Hal yang kemudian wajar, karena sedari awal Jose sudah bermaksud demikian. Orang bisa mengikuti film dan tertawa, walaupun menyaksikan film ini kapanpun.

KOMEDI? HOROR? EROTIS?
Tertawa? Mungkin Anda akan bingung bila dengan judulnya yang memakai kata hantu tapi Jose bermaksud membuat tertawa. Film ini memang tidak jelas tujuannya, seperti halnya alur dan plot cerita.
Kalaupun maksud Jose membuat penonton tertawa, kemudian Penulis sama sekali tidak tertawa. Adegan yang dimaksudkan untuk memancing tawa menurut Penulis sama sekali tidak lucu. Para aktor bukanlah tipe yang memiliki bakat alam untuk melucu. Sesuatu yang mutlak diperlukan bagi seorang komedian.
Humor yang ditampilkan adalah dalam tingkatan slapstick yang benar-benar parah. Tertawa para pemain, terutama Abdurahman Afif dan Ricky Adi Putra, terdengar sangat dipaksakan.
Namun, anehnya di sekeliling Penulis, masih ditemukan orang tertawa melihat adegan di film. Penulis melihat ada dua jenis penonton yang tertawa melihat humor yang ditampilkan di Pulau Hantu 3 ini.
Pertama, penonton yang memang memiliki koneksi terhadap humor yang ditawarkan. Kedua, penonton yang mentertawakan adegan di film, justru karena tingkat "kerusakan" elemen filmisnya.
Musik yang idealnya membantu membangun atmosfer film, juga sama sekali tidak bekerja di sini. Musik yang terkesan diciptakan dari efek keyboard biasa dan sangat terkesan jadul ( dalam konteks buruk), sama "melompatnya" dengan adegan.
Peralihan antara adegan komedi dan (yang seharusnya) seram, sama sekali bias. Tidak bisa dibedakan. (Sangat sering) musik dengan nuansa jenaka masuk saat adegan yang (seharusnya) menyeramkan. Ataupun musik dengan nuansa seram, tapi hadir di adegan dengan akting jenaka. Musik di film ini sangat mengingatkan Penulis dengan musik zaman Warkop DKI awal 90'an. Zaman ketika Dono, Kasino dan Indro terpuruk pada tema murahan.
Bukti bahwa Jose Purnomo adalah sineas berbakat adalah gambar yang ditampilkan di sini adalah gambar dengan kontras warna yang cerah. Jose yang merupakan sutradara video klip, banyak mengambil landscape indah di film Pulau Hantu 3 ini.
Banyak sekali gambar yang diambil secara wide, yang memang bermaksud menangkap keindahan panorama lokasi (satu-satunya keunggulan di sini).
Jose Purnomo yang juga merangkap di departemen sinematografi, memakai kamera Red-Cam ( tampaknya kamera favorit Jose yang juga dipakai di Skandal). Hasilnya memang bagus dan tajam. Tapi kemudian Pulau Hantu 3 sangat seperti video klip yang dipanjangkan.
Penyuntingan filmnya jangan ditanya. Efek bouncing, flash , dan pergerakan kamera rancak dan dinamis, seperti yang dipopulerkan pertama kali oleh Bahz Luhrmann di film yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio dan Claire Danes, Romeo + Juliet.
Namun, alih-alih terkesan artistik, Pulau Hantu 3 malah makin tidak jelas tujuannya dengan konsep seperti itu.

MESKIPUN DANGKAL, FILM SEPERTI PULAU HANTU 3 MERAIH CERUK PENONTON TERBESAR
Jangan ditanya soal akting. Para pemain di sini memang dipakai untuk menampilkan "keindahan" fisik. Sinta Bachir dan sederet aktris lain, memang menjadi diri mereka sendiri. Tidak perlu pelatihan khusus ataupun pendalaman karakter untuk peran mereka. Berteriak, akting bingung dan pakai bikini adalah syarat utama untuk film ini.
Aktris yang seperti Sinta Bachir selalu beralasan jikalau mereka mau bermain dalam film dengan berbikini, karena film ini sesuai konteks, yaitu di pantai.
Namun, ketika kita berpaling lagi, konteks di pantai hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan film. Film juga terdiri atas alur dan itu harus kesinambungan. Tidak kontekstual lagi bila seorang manajer resort menemui kliennya dengan berbikini atau busana super seksi saat membicarakan pekerjaan. Atau tiba-tiba hubungan seks dihadirkan dengan tidak elegan dan alih-alih muncul tanpa sebab yang jelas.
Aktornya pun demikian. Kekonyolan adalah modal utama Abdurahman Afif dan Ricky Adi Putra. Sementara bintang iklan, Boy Hamzah, dipasang karena memiliki pesona fisik, sesuatu yang sedari awal digambarkan membuat para wanita yang ada di film ini mau bermesraan dengan karakter yang dimainkan Boy Hamzah ( Patugana).

Sesuatu yang kemudian aneh, tatkala Patugana digambarkan harus melakukan ritual untuk tidur dengan para wanita tersebut. Sesuatu yang aneh dan tidak masuk akal.
Namun, Penulis sadar tidaklah bisa egois ketika menonton film seperti Pulau Hantu 3 ini.
Ini memang bukan tipikal film yang disukai oleh penikmat film dengan teknis produksi apik. Akan tetapi fakta bahwa film-film sejenis ini mendapat penonton di atas 200 ribu, merupakan bukti bahwa memang film seperti inilah yang disukai oleh kebanyakan penonton.
Penonton kita yang kebanyakan remaja (dan kebanyakan mereka memilih film ringan) dan juga penonton pasif yang memang sedari awal hanya mencari hiburan. Merekalah ceruk pasar terbesar.
Mereka tidak peduli dengan twist, plot cerita rumit, atau akting pemain lulusan teater terkenal. Mereka adalah penonton visual dan tertarik pada gambar-gambar indah.
Dan persentase penonton yang mengutamakan kualitas cerita dan kerapian produksi masihlah kecil. Itu sebabnya observasi dan riset Jose Purnomo saat ini masih terbukti.
Namun, Jose Purnomo mungkin lupa. Saat ini media informasi film semakin mudah diakses dan itu tentu akan berpengaruh terhadap selera dan pola pikir penonton. Penonton yang selama ini menjadi target film seperti Pulau Hantu 3 tentunya semakin lama akan semakin bosan dengan film yang itu-itu saja.
Dan kecenderungan ini semakin terlihat. Sebelum akhirnya film yang mengutamakan keseksian serta keindahan yang dangkal seperti Pulau Hantu 3 akan ditinggalkan oleh penonton. Sama seperti saat industri film Indonesia dipenuhi oleh genre serupa di tahun 90'an. Dan kemudian industri perfilman kita mati suri.
Skala penilaian 1/5
(tz/bc)
Komentar