Copyright © 2002 - 2013 PT. BOLEH NET INDONESIA.
Hafalan Shalat Delisa
Tsunami Aceh yang terjadi pada akhir tahun 2004 memang masih meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi keluarga Korban dan penduduk di negeri serambi Mekah terebut. Hal ini pula yang membuat 'tema' ini menjadi sangat sensitif untuk diperbincangkan, dan bahkan untuk sekedar diangkat kedalam sebuah bentuk media seperti film.
Sekitar 7 tahun setelah bencana memilukan yang 'menelan' ribuan korban jiwa tersebut, tema tsunami ini kemudian berani diangkat dalam sebuah film. Adalah Starvision bersama Sutradara Sony Gaokasak (Tentang Cinta) yang kemudian menggarap film layar lebar Indonesia pertama yang mengangkat tentang kejadian Tsunami ini lewat film berjudul Hafalan Shalat Delisa.
Diadaptasi dari Novel best seller berjudul sama karya Tere Liye, Hafalan Shalat Delisa mengisahkan tentang Delisa seorang gadis cilik yang harus kehilangan Ibunya (Ummi Salamah, diperankan oleh Nirina Zubir), dan ketiga kakaknya yaitu Fatimah, Aisyah dan Zahra, pasca bencana tsunami yang melanda Aceh.
Delisa yang selamat dalam bencana tersebut, akhirnya hidup bersama sang Ayah (Abi Usman diperankan oleh Reza Rahadian) ditengah situasi Aceh yang yang masih memprihatinkan pasca bencana.

Namun di situasi sesulit itupun, dengan sebelah kakinya yang telah diamputasi, Delisa tetaplah menjadi anak yang optimistik dan menginspirasi orang-orang disekitarnya. Delisa masih memilki mimpi dan obsesi untuk menyelesaikan hafalan bacaan Shalatnya seperti yang pernah Ia janjikan ke Ummi nya sebelum kejadian Tsunami dulu.

Sebagai sebuah film yang sejak awal ditujukan menjadi sajian visual yang menyentuh yang bisa 'meguras air mata' penontonnya, Hafalan Shalat Delisa sebenarnya sudah memilki materi yang sempurna untuk hal itu. Karakter yang tengah dilanda cobaan, bencana, kematian, dan hubungan keluarga semuanya terangkum dalam jalinan kisah film ini.
Tetapi menggarap film tear-jerker memanglah susah-susah-gampang, karena jika gagal, hasilnya bukannya mengharukan penonton malah tampil 'menyedihkan' dalam hal kualitas. Sayangnya, sang Sutradara Sony Gaokasak kurang mampu menggali emosi dari 'materi sempurna tear-jerker movie' ini, sehingga hasilnya Hafalan Shalat Delisa ini masih kurang berhasil 'menyentuh' penonton filmnya.
Akting Chantiq Schagerl sebagai seorang debutan di layar lebar cukup menarik perhatian. Walaupun sebagai karakter Delisa, Chantiq masih kurang mampu menampilkan aura optimistik yang seharusnya dimiliki oleh karakternya, sehingga 'semangat' dan 'pesan' yang ingin disampaikan melalui karakter Delisa kurang mampu tersampaikan dengan baik ke penonton.

Beberapa detail seperti penggunaan bahasa dan logat Aceh juga sayangnya tidak mendapat perhatian di film ini. Aktor-Aktrisnya masih berdialog layaknya peran mereka di film lainnya. Begitupun dengan detail mengenai kondisi geografis Aceh yang ditampilkan di filmnya masih jauh dari gambaran Aceh yang sebenarnya. Untungnya nuansa Aceh masih 'tertolong' lewat lantunan scoring musik gubahan Tya Subiakto yang terasa 'menghentak' dan sesuai dengan mood khas lantunan lagu Aceh.
Satu hal yang mendapat highlight dari film ini adalah penggunaan CGI (Computer Generated Imagery) yang tergolong baru untuk sebuah film Indonesia. Adegan yang memvisualisasikan gempa, helikopter, kapal-kapal besar dan tentu saja tsunami yang dibuat melalui CGI dari Gapetto Animation Indonesia harus diakui memang hasilnya belum maksimal.

Efeknya masih terasa kasar dan tidak real, tetapi untunglah masih belum dalam taraf visual efek yang 'memprihatinkan' seperti sinetron laga di salah satu stasiun televisi swasta nasional. Tetapi untuk sebuah langkah baru dalam terobosan efek untuk film Indonesia, CGI nya patut untuk diapesiasi dan pastinya sangat tidak adil rasanya jika kita membandingkannya dengan CGI yang dihasilkan oleh Perfilman maju seperti Hollywood.
Secara keseluruhan, sebagai sebuah film yang mengangkat sebuah persitiwa bencana besar yang pernah terjadi di negara ini, Hafalan Shalat Delisa memang masih belum mampu men-capture kesedihan dan optimisme yang ingin disampaikan melalui filmnya.
Tetapi setidaknya, film ini masih mampu menghadirkan beberapa momen menyentuh terutama dari Akting Reza Rahadian yang seperti biasa tampil dengan apik.
Saat Penonton bertanya-tanya dalam hati setelah selesai menonton filmnya dengan pertanyaan "Apakah Saya sendiri sudah hafal bacaan Shalat?" (mungkin saja itu) berarti pesan film ini sudah tersampaikan dengan baik. Ya, Mungkin saja...
Hafalan Shalat Delisa akan dirilis mulai Tanggal 22 Desember 2011. Disutradarai oleh Sony Gaokasak dan dibintangi oleh Reza Rahadian, Nirina Zubir, Fathir Muchtar, Mike Lewis dan aktris cilik pendatang baru Chantiq Schagerl sebagai Delisa.
Selamat menonton!
(vn/bc)
Komentar