Review Film

Mother Keder Emakku Ajaib Bener

Mother Keder Emakku Ajaib Bener

Seorang mantan pemenang kontes kecantikan Puteri Indonesia ternyata memiliki keluarga yang sangat 'nyentrik'. Ibunya yang selalu ceplas-ceplos dan sering berkelakuan 'tidak wajar', Ayahnya yang juga memilki kebiasaan aneh 'memaksa' keluarganya meminum 'jus sayuran' yang memuakkan, belum lagi kedua adiknya yang juga 'unik' secara fisik maupun kepribadian.

Sekilas terdengar seperti kisah fiksi, tetapi ternyata sepenggal kisah diatas adalah kisah nyata yang dialami oleh Viyanthi Silvana (Putri Indonesia Photogenic 2001) yang tertuang dalam sebuah buku berjudul Mother Keder yang mengisahkan pengalaman pribadinya dan keluarganya. Berangkat dari Novel yang mendapat sambutan cukup bagus, kemudian adaptasi filmnyapun langsung menyusul setelahnya.

Entah disengaja atau tidak, pemeran versi layar lebarnya juga adalah seorang mantan Puteri Indonesia yang merupakan Junior 9 tahun dibawah penulis novelnya Viyanthi Silvana yaitu Qory Sadioriva (Puteri Indonesia tahun 2009).

 

Mother Keder mengisahkan tentang Vivi (Qory Sandioriva) yang karena kekasihnya kedapatan berselingkuh dan rencana pernikahannya menjadi batal, akhirnya memutuskan pindah dari apartemennya dan kembali kerumah untuk tinggal bersama keluarganya lagi. Kembali kerumah, otomatis Vivi harus kembali berurusan dengan tingkah anggota keluarganya yang aneh-aneh dan seringkali memancing kekesalan dan sekaligus tawa. Vivi juga harus menghadapi rencana pernikahan adiknya yaitu Dinda (Jill Gladys) yang akan 'melangkah' dirinya. Tetapi tidak ada cobaan yang lebih berat dirumah tersebut selain kelakuan 'ajaib' ibu nya (Ira Maya Sopha) yang selalu membuat Vivi 'kewalahan'.

Tentu saja sangat tidak mudah mengadaptasi sebuah novel yang tidak memiliki alur seperti Mother Keder kedalam bentuk naskah film. Novelnya sendiri berisi 28 kisah yang tidak saling berhubungan, berisikan humor-humor yang terbentuk dari curhatan penulisnya tentang keluarganya, dan hanya memiliki 'benang-merah' pada karakter Mother dari Vivi dan kelakuan 'nyeleneh' keluarganya.

Sayangnya Reka Wijaya, penulis naskah film ini, masih terasa belum mulus dalam memberikan 'alur' untuk film ini yang merupakan pengembangan dari novelnya. Reka mencoba memasukan konflik dan alur kisah agak filmnya tidak terlalu terlihat seperti sketsa komedi belaka (seperti Novelnya). Tetapi karena kurang kuatnya alur dan background kisah yang coba dimasukkan di film ini, membuat jalinan kisahnya tidak bisa dipungkiri masih 'terjebak' pada pola sketsa komedi yang acak dan tidak runut, yang 'penyambungannya' masih terasa dipaksakan.

 

Sebagai sebuah debut penyutradaan, Eko Nobel juga masih kurang berhasil menghadirkan momen-momen komedi di film ini. Padahal sebenarnya naskahnya cukup banyak menyimpan momen komedi yang jika dieksekusi dengan tepat, akan sukses 'mengocok perut' penonton. Beberapa momen komedi yang walaupun komikal dan predictable memang masih mampu memancing tawa. Walaupun sebagian besar lainnya masih terasa garing dan masih terjebak pada 'lawakan' yang sudah sering kita lihat di televisi.

Tetapi eksperimen Eko menambahkan unsur animasi di beberapa adegannya cukup menarik, sehingga filmnya tidak terlalu terlihat seperti sajian film televisi yang datar-datar saja.

 

Pemilihan Ira Maya Sopha sebagai sosok 'Mother Keder' rasanya harus diakui memang adalah pilihan paling tepat yang berhasil dihadirkan di film ini. Ira begitu 'melebur' dengan karakternya sebagai ibu yang 'nyentrik' yang membuat rasa 'geregetan' tokoh-tokoh di filmnya terhadap sosok mamih 'ajaib' ini juga 'tertular' ke penontonnya. Gesture dan gaya lawakan Ira walaupun di beberapa bagian memang terasa berlebihan tetapi hal itulah yang memang ingin ditonjolkan dari karakter ini.

Saya pribadi sebenarnya membayangkan sosok Nani wijaya yang akan memerankan karakter ini, tetapi sepertinya jika Nani yang menjadi Ibu Kosasih alias Mother Keder, karakternya mungkin akan menjadi 'bias' dengan karakternya sebagai Emak di Bajaj Bajuri.

 

Qory Sadioriva, Jill Gladys, dan Pong Harjatmo masih bermain 'aman' karena memang karakter mereka terbilang masih sangat ringan dan tidak membutuhkan improvisasi yang berlebihan. Khusus untuk Qory yang merupakan debut filmnya sebagai bintang utama (sebelumnya pernah tampil dalam Purple Love), aktingnya memang masih belum maksimal. Tetapi di beberapa bagian Qory masih mampu menampilkan ekspresi komikal yang cukup tepat untuk mengisi karakter Vivi, khususnya setiap kali Ia harus berhadapan dengan sang Ibu.

Secara keseluruhan, Mother Keder yang walaupun masih terasa klise dan terlalu komikal, sebenarnya masih menjadi film yang menghibur dengan sajian komedi ringan yang coba dihadirkannya. Sayangnya filmnya masih terjebak pada sajian ala sketsa-sketsa komedi khas televisi.

Masih terasa 'lucu' dan 'menghibur' untuk sajian televisi yang notabene adalah sajian 'gratis', tetapi untuk sajian di layar lebar?  Ya, anggap saja Anda menyaksikan sketsa komedi khas televisi, tetapi kali ini disaksikan dalam layar yang lebih besar dan harus membayar tiket untuk menyaksikannya.

Mother Keder mulai tayang di bioskop tanggal 12 januari 2012. Selamat menonton!

Penilaian : 2/5

(vn/bc)