Google, Apple dan Facebook ramai-ramai menentang Trump

50
A young girl joins hundreds of people opposed to President Donald Trump's executive order barring entry to the U.S. by Muslims from certain countries as they demonstrate at the Tom Bradley International Terminal at Los Angeles International Airport Saturday, Jan. 28, 2017. (AP Photo/Reed Saxon)

Aturan anti-imigran yang lebih ketat dari Donald Trump mendapat kecaman bos-bos perusahaan teknologi AS yang bermarkas di Silicon Valley.

Bukan apa-apa, perusahaan teknologi itu hampir semuanya berstatus multinasional dengan tenaga kerja dari berbagai kebangsaan tanpa memandang suku, agama, ras dan antar golongan.

Google pun kalang kabut karena ratusan karyawannya ternyata berasal dari negara-negara dimaksud dan saat ini mereka sedang berada di luar AS. CEO Google, Sundar Pichai mengutarakan kekecewaannya dalam cuitan ini.


Pendiri Google lain, Sergey Brin, bahkan ketahuan ikut berdemo menentang kebijakan Trump di bandara San Francisco. Ia tergerak karena merasa sebagai pengungsi, di mana keluarganya dulu pindah dari Uni Soviet karena terancam bahaya.


Selain Google, Apple menyesalkan kebijakan Trump. “Apple tidak akan eksis tanpa imigrasi, apalagi berkembang dan berinovasi,” tulis CEO Apple, Tim Cook. Sudah diketahui umum bahwa pendiri Apple, Steve Jobs, adalah anak keturunan imigran Suriah.
CEO Facebook, Mark Zuckerberg, yang termasuk sosok paling getol menentang Trump. Statusnya menceritakan asal muasalnya dari berbagai etnis, termasuk istrinya sendiri.

Nah bagaimana masa depan Silicon Valley di era Trump? Masih harus diikuti dengan seksama.

Baca juga: Apple bukan lagi raja di Cina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here